How did those soldiers feel when they landed on those tiny strips of sand only to find out that there and got a shelling from an 88 coastal gun?
Sabtu kira-kira jam 5.30 sore aku tiba di pantai itu, dan kata pertama yang terucap dariku adalah: “wow keren!!” Sedangkan kata pertama yang kudengar adalah: “Wilsoooon!!!”
Adalah berkat Tuhan sehingga aku bisa menjejakkan kakiku di pantai itu. I had doubts on my way there, but eventully those doubts faded away by the time I saw the ocean and its great waves.
Tujuan kami ke pantai itu adalah untuk mengasingkan diri dari peradaban selama satu malam aja. Keluar dari rutinitas kami masing-masing.
Puas dengan potret memotret kami langsung menaiki sebuah bukit yang menjulang di sebelah timur pantai itu untuk menemukan tempat berteduh selama semalam. Found a small shelter and we prepared everything for the upcoming night which was drawing near.
Di tempat yang terbatas itu aku bisa lebih mendekatkan diriku dengan alam. Mencoba berkontemplasi tentang segala kesuntukanku selama ini. Mencoba mendekatkan diriku dengan Tuhan dengan mengagumi keindahan yang telah dia ciptakan. Di tempat itulah aku bisa merasakan empati yang dalam kepada para tentara yang telah wafat di sepanjang pantai utara Normandia dan di pulau Iwo Jima. Dan setiap kali mendengar deburan ombak yang menghantam salah satu karang yang ada di pantai itu, temanku akan mengatakan, “Itulah suara meriam 88 yang ditembakkan oleh para tentara Jerman kepada musuh-musuhnya.” Memang, suaranya mirip kok.
Esok harinya aku menceburkan diri ke laut untuk membasuh diriku. Aku mencoba menghilangkan segala bebanku yang telah memuncak 2 malam sebelumnya. Mencoba menenggelamkan alter egoku yang sudah menguasai lebih dari separo kepribadianku yang sebenarnya.
He got swept by the tide that was coming due to the storm that happened somewhere there in the middle of the ocean. He is gone now. But he‘s gonna come back. When? Hell knows.

This was my personal sunset...
